SPORT
Persija Jakarta Menang Dramatis Atas Persib Bandung Berkat Gol Menit Akhir
Persija Jakarta meraih kemenangan dramatis 2-1 atas Persib Bandung dalam laga persaingan klasik Super League 2026/2027 d...
Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) resmi mengajukan protes keras kepada FIFA menyusul kekalahan dramatis 2-3 dari Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Pihak Mesir merasa dicurangi oleh serangkaian keputusan kontroversial wasit asal Prancis, François Letexier, termasuk penganuliran gol dan pengabaian VAR yang dinilai sangat merugikan tim. Akibat kekecewaan yang mendalam tersebut, EFA menuntut FIFA melakukan investigasi menyeluruh dan mendesak agar tim wasit tersebut segera dicoret dari sisa turnamen.
Drama 16 Besar: Ketika 'Match' Impian Berubah Jadi Kekecewaan Massal Suporter
Bagi penikmat sepak bola layar kaca di Indonesia terutama para pencinta tim underdog (tim yang tidak diunggulkan) yang bosan melihat dominasi tim raksasa babak 16 besar Piala Dunia 2026 harusnya jadi panggung pembuktian. Menyaksikan tim seperti Mesir bertarung habis-habisan melawan sang juara bertahan Argentina adalah sebuah kepuasan tersendiri. Namun, laga dramatis di Atlanta tersebut justru berakhir dengan rasa pahit yang familier bagi kita yang sering disuguhi kontroversi pengadil lapangan: pertandingan yang dirusak oleh keputusan wasit.
Kekalahan tipis 2-3 dari Argentina membuat langkah The Pharaohs terhenti secara tragis. Sempat unggul dan hampir mengunci tiket perempat final, Mesir harus gigit jari setelah Argentina membalikkan keadaan di menit-menit akhir. Pertandingan selesai, tetapi drama baru justru dimulai di luar lapangan.
Surat Resmi ke FIFA: Tuntut François Letexier 'Dirumahkan'
Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) tidak tinggal diam melihat timnya tersingkir dalam laga penuh tanda tanya tersebut. Dipimpin oleh sang Presiden Federasi, Hany Abo Rida, EFA resmi melayangkan protes keras dan pengaduan formal kepada FIFA.
Berdasarkan laporan jurnalis Ismael Mahmoud yang turut divalidasi oleh pakar transfer Fabrizio Romano, Mesir menuntut investigasi menyeluruh atas performa korps baju hitam dalam laga tersebut. Tidak tanggung-tanggung, EFA mendesak FIFA untuk mencoret wasit utama asal Prancis, François Letexier, beserta seluruh asistennya dari sisa turnamen Piala Dunia 2026 atas dugaan kesalahan fatal yang mereka lakukan.

Sumber : Pelatih Mesir Saat Melakukan Protes Kepada Wasit | REUTERS/Paul Childs
Beberapa poin krusial yang digugat oleh pihak Mesir meliputi:
POV: Kekecewaan Kolektif Atas Hilangnya Sportivitas di Lapangan Hijau
Bagi penonton netral dan pencinta sepak bola urban yang menginginkan kompetisi bersih, kemarahan skuad Mesir sangat bisa dipahami. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, bahkan tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya saat berbicara kepada media seusai laga.
"Saya akan pulang dan tidak akan menonton pertandingan Piala Dunia lagi. Apa yang terjadi kepada kami tidak adil. Kami seharusnya mendapat penalti, gol kami dianulir, dan saya tidak tahu mengapa gol itu dibatalkan,"
ujar Hossam Hassan dengan nada murka.
Kekecewaan ini makin dipertegas oleh penyerang mereka, Mostafa Zico, yang mengeluarkan pernyataan berani dengan menyebut bahwa laga kontra Argentina tersebut rasanya seperti sudah "diatur" demi memuluskan langkah sang lawan.
Meskipun protes resmi telah dilayangkan ke meja hijau FIFA, hasil di papan skor tidak akan berubah. Argentina tetap melenggang ke babak perempat final untuk menghadapi Swiss, sementara Mesir terpaksa pulang lebih awal membawa luka ketidakadilan. Kasus ini menjadi pengingat bagi pencinta olahraga bahwa di balik gemerlapnya turnamen sebesar Piala Dunia, transparansi keputusan wasit masih menjadi barang mahal yang terus diperjuangkan.
Sumber: Bola.com