Klaim Prabowo Tentang Kepemilikan Nuklir Iran Bisa Jadi Bumerang bagi Indonesia
TRENDING

Klaim Prabowo Tentang Kepemilikan Nuklir Iran Bisa Jadi Bumerang bagi Indonesia

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Iran telah memiliki senjata nuklir memicu perdebatan mengenai akurasi informasi dan dampaknya terhadap diplomasi Indonesia. Di tengah belum adanya konfirmasi resmi bahwa Iran memiliki senjata nuklir operasional, ucapan tersebut dinilai berpotensi mengganggu kredibilitas politik luar negeri Indonesia dan hubungan dengan Iran.

Dalam pidatonya di hadapan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) pada Jumat (31/7) lalu, Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengasumsikan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir, dan menjelaskan kemungkinan negara-negara lain di kawasan seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar dan Mesir ikut berlomba memiliki persenjataan serupa.

Sumber: Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

"Dikatakan bahwa Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirat (Uni Emirat Arab) juga ingin punya senjata nuklir, Qatar juga ingin punya senjata nuklir, Mesir juga ingin senjata nuklir."

Pernyataan itu mungkin dimaksudkan sebagai ilustrasi mengenai bahaya perlombaan senjata. Namun dalam diplomasi internasional, terutama ketika keluar dari mulut seorang kepala negara, setiap kalimat memiliki konsekuensi. Masalahnya, klaim bahwa Iran telah memiliki senjata nuklir justru bertentangan dengan posisi resmi yang selama ini dipegang berbagai lembaga internasional maupun pemerintah Indonesia sendiri.

Hingga hari ini, tidak ada pengakuan resmi ataupun bukti yang telah diverifikasi secara internasional bahwa Iran memiliki senjata nuklir operasional. Iran memang memiliki program nuklir yang sangat kontroversial dan telah memperkaya uranium hingga tingkat tinggi, namun memiliki kemampuan memperkaya uranium tidak otomatis berarti telah berhasil membuat bom nuklir yang siap digunakan.

Karena itu, sejumlah pengamat Timur Tengah mengingatkan bahwa ucapan Prabowo berpotensi menimbulkan salah persepsi. Dilansir afu.id, pengamat masalah geopolitik Timur Tengah Faisal Assegaf menegaskan bahwa Iran belum terbukti memiliki senjata pemusnah massal berupa bom nuklir, sehingga penyebutan tersebut dapat dianggap sebagai pernyataan faktual yang keliru. Lebih lanjut, Faisal menyatakan bahwa narasi tersebut justru muncul dari perspektif negatif Amerika Serikat, negara yang notabene sedang berkonflik dengan Iran.

Bukan Prabowo yang mengatakan itu tapi dia mengutip tudingan atau kekhawatiran dari Amerika Serikat dan Israel.

Jika seorang presiden secara eksplisit menyatakan Iran telah memiliki senjata nuklir, Iran dapat memandangnya sebagai bentuk legitimasi terhadap tuduhan yang selama ini mereka bantah. Risikonya memang belum tentu langsung berupa protes diplomatik, namun pernyataan yang dianggap menyudutkan dapat mengurangi kepercayaan, terutama ketika datang dari kepala negara yang mewakili posisi resmi pemerintah.

Indonesia pun sebenarnya tidak memperoleh keuntungan strategis apapun dari pernyataan tersebut. Jika tujuannya adalah memperingatkan bahaya proliferasi nuklir di Timur Tengah, pesan itu tetap dapat disampaikan tanpa menyatakan bahwa Iran sudah memiliki bom nuklir.

Sebagai negara yang selama ini menikmati reputasi sebagai negara yang relatif dipercaya berbagai pihak di Timur Tengah, Indonesia seharusnya menjadi titik tengah dan bukan pendorong narasi palsu. Ketelitian dalam memilih kata harus selalu dijaga, apalagi bagi seseorang yang seharusnya menjadi pemimpin negara.