Pembangunan JPO Ancol-JIS dan Stasiun KRL sementara resmi dioperasikan tepat pada HUT Jakarta ke-497 sebagai solusi atas buruknya aksesibilitas transportasi publik di kawasan stadion megah tersebut. Fasilitas baru ini menjadi angin segar bagi suporter kelas pekerja dan warga lokal yang selama ini harus bertaruh nyawa membelah kemacetan serta jalur maut truk kontainer demi menuju JIS. Meski disambut baik, proyek ini menyisakan kritik tajam mengenai prioritas pemerintah yang dinilai terlambat dalam memenuhi hak mobilitas dan memanusiakan penonton bermodal pas-pasan.
Jakarta — Sudah jadi rahasia umum kalau Jakarta International Stadium (JIS) adalah proyek megah yang lahir dengan sejuta paradoks. Stadion berkapasitas 82.000 penonton ini berdiri anggun, tapi bertahun-tahun diisolasi oleh buruknya akses transportasi publik. Bagi ribuan masyarakat kelas pekerja termasuk warga Kampung Bayam yang terpinggirkan di sekitarnya serta para suporter sepak bola urban (The Jakmania) yang tak punya kemewahan membeli tiket parkir VIP menuju ke JIS adalah sebuah perjuangan fisik yang melelahkan sekaligus berbahaya.
Namun, tepat di Hari Ulang Tahun (HUT) Jakarta ke-497, ada sebuah 'kado' yang akhirnya diserahkan ke publik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Kementerian Perhubungan resmi mengoperasikan dua infrastruktur krusial: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Ancol-JIS dan Stasiun KRL JIS.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih atas kado ulang tahun ke-499 Jakarta berupa aktivasi Stasiun JIS dan konektivitas dengan Ancol, termasuk stasiun KRL dan jembatan penghubung ini,"
ujar Pramono.
Sumber: Dok Pemprov DKI
Bagi kaum urban yang mengandalkan transportasi publik demi menghemat ongkos harian, ini bukan sekadar peresmian infrastruktur hiasan, melainkan pemenuhan hak mobilitas yang sudah lama tertunda.
Menghapus Trauma "Jalur Maut" Suporter dan Warga
Sebelum fasilitas ini berdiri, mengakses JIS menggunakan transportasi massal adalah mimpi buruk. Suporter yang turun di stasiun terdekat harus berjalan kaki berkilo-kilometer membelah jalanan sempit yang padat, bertaruh nyawa di antara truk-truk kontainer besar, atau terjebak kemacetan horor karena kantong parkir yang minim.
Kehadiran JPO sepanjang 300 hingga 400 meter yang menghubungkan area parkir Ancol langsung ke gerbang stadion kini memangkas jarak psikologis dan fisik tersebut. Lebih penting lagi, stasiun KRL sementara yang dibangun tepat di dekat stadion memutus rantai keruwetan transit yang selama ini mencekik para pelaju (commuter) kelas pekerja dari berbagai penjuru bodetabek.
Bagi komunitas lokal dan penonton layar kaca yang bermigrasi ke stadion, infrastruktur baru ini adalah bentuk pemulihan martabat. Transportasi publik massal yang ramah dompet akhirnya hadir di episentrum hiburan olahraga Jakarta.
Kado Ulang Tahun atau Kewajiban yang Terlambat?
Meski disambut baik oleh netizen di media sosial dan komunitas suporter, pembangunan ini menyisakan catatan kritis yang tebal. Mengapa fasilitas se-vital stasiun kereta dan jembatan penyeberangan baru rampung setelah stadionnya bertahun-tahun dipakai untuk konser internasional dan laga besar? Kenapa aspek aksesibilitas bagi masyarakat kelas menengah ke bawah selalu ditaruh di nomor urut kesekian setelah proyek fisiknya megah berdiri?
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut fasilitas ini sebagai hadiah ulang tahun kota. Namun, bagi masyarakat pinggiran Jakarta, ini bukanlah hadiah cuma-cuma, melainkan utang fasilitas publik yang memang sudah seharusnya mereka terima sejak hari pertama tiang pancang JIS ditanam.
Sumber: Liputan6com, antara