SPORT
Persija Jakarta Menang Dramatis Atas Persib Bandung Berkat Gol Menit Akhir
Persija Jakarta meraih kemenangan dramatis 2-1 atas Persib Bandung dalam laga persaingan klasik Super League 2026/2027 d...
Gelombang penolakan terhadap Gianni Infantino terus meluas. Setelah Wales menarik dukungannya, Inggris dikabarkan siap mengikuti langkah tersebut, memunculkan kekhawatiran bahwa semakin banyak federasi nasional akan meninggalkan Presiden FIFA menjelang pemilihan berikutnya.
Gelombang penolakan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino tampaknya baru saja dimulai. Setelah Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW) resmi mencabut dukungannya, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) kini dikabarkan siap mengambil langkah yang sama. Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa krisis politik yang dipicu rencana proyek FIFA Forward Enterprise telah memasuki babak baru.

Sumber: Martin Meissner/AP
Menurut laporan Sky Sports, keputusan Inggris bukanlah akhir dari rangkaian penolakan. Sejumlah surat dan pengumuman serupa diperkirakan akan datang dalam beberapa jam dan hari ke depan. Tujuannya jelas, untuk memberikan tekanan sebesar mungkin kepada Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya.
Jika Inggris benar-benar menarik dukungan, dampaknya akan jauh lebih besar daripada sekadar hilangnya satu suara. Sebagai salah satu negara dengan pengaruh terbesar dalam sejarah sepak bola dunia, perubahan sikap FA berpotensi menjadi pemicu bagi federasi-federasi lain yang selama ini memilih diam. Dalam politik organisasi internasional, negara besar seringkali menjadi penentu arah dan langkah Inggris dapat memberi legitimasi bagi anggota FIFA lain untuk ikut menyatakan ketidakpercayaan.
Ancaman itu juga mulai terlihat dari luar Eropa. Selain UEFA yang terus meningkatkan tekanan terhadap FIFA, konfederasi CONCACAF disebut menginginkan evaluasi menyeluruh terhadap kepemimpinan organisasi tersebut. Dengan kata lain, ketidakpuasan terhadap Infantino tidak lagi hanya menjadi isu internal Eropa, tetapi mulai mendapat perhatian dari kawasan lain.
Situasi ini membuat peluang Infantino untuk melaju mulus menuju masa jabatan berikutnya tidak lagi terlihat seaman beberapa pekan lalu. Selama bertahun-tahun ia hampir tidak menghadapi oposisi yang berarti dalam pemilihan presiden FIFA. Namun kini, untuk pertama kalinya sejak menjabat pada 2016, dukungan dari federasi-federasi nasional mulai tergerus secara terbuka. Jika tren ini terus berlanjut dan semakin banyak anggota FIFA mengikuti langkah Wales serta Inggris, pemilihan presiden FIFA tahun depan berpotensi berubah menjadi kontestasi politik paling berat yang pernah dihadapi Infantino.