Apa Yang Terjadi pada otak saat kita terjebak pinjol?
NEWS

Apa Yang Terjadi pada otak saat kita terjebak pinjol?

Jeratan pinjaman online memicu pembanjiran hormon stres kronis dan membajak sistem imbalan otak, sehingga mengikis rasionalitas serta mendorong keputusan impulsif seperti "gali lubang tutup lubang". Kondisi ini diperparah oleh rasa malu dan isolasi sosial yang diakibatkan oleh stigma utang sebagai sebuah aib, meskipun data menunjukkan bahwa fenomena ini telah meluas dan rentan menimpa berbagai lapisan masyarakat, khususnya kelas menengah. Untuk keluar dari jebakan ini, korban perlu memutus stigma, menyusun rencana pelunasan bertahap, melaporkan teror pinjol ilegal ke pihak berwajib, serta memberanikan diri mencari dukungan dari keluarga atau kerabat terdekat.

Kusrohmaniah memberikan Presfektif mendalam terhadap bagaimana sistem otak sulit berfikir saat terjebak utang, menurutnya

"Terjebak pinjaman online (pinjol) memicu banjir hormon stres kronis dan membajak jalur sistem imbalan (dopamin) di dalam otak, sehingga seseorang sulit berpikir jernih dan mudah terjerumus dalam siklus kecanduan utang."

Semua selalu dimulai dengan kalimat paling santai sekaligus paling berbahaya di muka bumi “Gak apa-apa, nanti bulan depan juga tertutup.” Di titik ini, tanpa kita sadari, terjadi normalization drift. Otak pelan-pelan menggeser persepsi utang yang tadinya dianggap tombol darurat, tiba-tiba dinormalisasi jadi instrumen gaya hidup atau talangan instan. Dari paylater, gestun, sampai pinjol baik yang legal apalagi yang ilegal. Masalahnya, otak manusia tidak membaca tumpukan utang baru sebagai ancaman biologis layaknya bahaya fisik (fight or flight). Wujudnya terlalu abstrak, cuma sekadar deretan angka digital yang berkedip tenang di layar gawai "

- Ujar Dr. Devina SpKJ."

Namun, kemudahan akses tanpa tatap muka ini justru menyimpan rahasia kelam bagi mentalitas kita. Tekanan finansial akibat jeratan pinjol menyerang otak secara diam-diam. Saat stres finansial memuncak, pikiran terus-menerus mengunyah kecemasan yang sama setiap detik. Hasilnya? Konsentrasi hancur, tidur tak lagi nyenyak, dan rasionalitas menguap. Otak yang kelelahan akhirnya mengambil keputusan impulsif meminjam lagi demi menutup utang lama. Lingkaran setan "gali lubang tutup lubang" pun dimulai.

Picture Edit By Using Corel Draw | Dimas Adi Saputra

Di balik putaran utang itu, ada satu tembok tebal yang membuat korban makin terisolasi rasa malu. Dalam benak banyak orang, terjerat pinjol dipandang sebagai sebuah AIB besar. Ada ketakutan luar biasa akan dihakimi, dicap konsumtif, atau dianggap gagal. Akibatnya, mereka memilih memendam semuanya sendiri. Isi kepala sibuk berteriak mencari jalan keluar, tapi mulut terkunci rapat bahkan tak berani sekadar berbisik ke pasangan, orang tua, atau sahabat terdekat. Keheningan dan rasa terasing inilah yang sebenarnya membunuh secara perlahan.

Fenomena ini bukan lagi sekadar masalah segelintir orang. Realitas di lapangan menunjukkan betapa masifnya dampak jebakan finansial ini.

Data yang dihimpun oleh Adi Ahdiat yang ditulis di website databoks mengenai rasio gagal bayar Pinjol.

  • Tingkat Gagal Bayar Memburuk: Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Desember 2025 mencatat rasio gagal bayar pinjol di Indonesia menyentuh angka 4,32%—sebuah angka yang relatif tinggi dibanding kondisi dua tahun terakhir.

menurut data dari Albertus Krisna yang dihimpun melalui Kompas.com:

* Kelas Menengah Paling Rentan: Dari total 524.953 penerima pinjaman, sebesar 45,2% berasal dari keluarga kelas menengah. Ini mengindikasikan bahwa lebih dari separuh pengguna sebenarnya terjebak pada Ilusi kebutuhan, bukan murni desakan perut.

* Spektrum Pengguna Lainnya: Sebanyak 32,7% merupakan masyarakat kelas bawah, sementara 22,1% sisanya datang dari masyarakat kelas atas.

Lantas, bagaimana caranya keluar jika pintu cerita saja sudah tertutup oleh rasa malu?

Langkah pertama adalah memutus belenggu stigma itu sendiri. Menyadari dan mengakui kondisi finansial saat ini serta mulai tegas membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan impulsif adalah fondasi awal. Bagi yang sudah terlanjur masuk ke dalam jurang pinjol, rencana pelunasan bertahap harus segera disusun. Penting juga untuk diingat pinjol ilegal tidak memiliki legalitas hukum untuk menagih secara semena-mena. Jika sudah melibatkan teror dan ancaman, mengabaikan tagihan ilegal tersebut serta melaporkannya ke pihak berwajib adalah langkah yang sah.

Namun yang paling krusial adalah memberanikan diri menurunkan gengsi dan meruntuhkan tembok "aib" tersebut. Mencari dukungan dari keluarga atau lingkungan terdekat bukan tanda kekalahan, melainkan satu-satunya tali penyelamat untuk kembali bernapas lega.